Home

Jakarta banyak mengelar berbagai party, dan rata-rata banyak mengundang soroton masyarakat. Party di Jakarta layaknya party dikebanyakan kota-kota besar, glam, always fun, dan selalu ramai oleh partygoers – sampai terkadang terlalu padat. Aku sendiri pernah hadir disuatu party yang diadakan oleh salah satu TV swasta. Seingatku, itu merupakan party yang cukup sukses. Dihiasi selebriti dimana-mana, free cocktails, dan tentu camera flash.

Tapi hari ini aku menghadiri salah party terbesar juga. The Internet Party. Dimana crowd-nya kebanyakan para pengila dunia internet. Jujur saja aku dan internet cukup akrab tapi ngga terlalu addict.

Connect Me to Your Heart

Sayangnya selebriti yang menghiasi malam itu  hanya Naif saja – tapi mereka tetap hebat dalam menghibur, I’m a big fan of the band. Jadi Jumat malam itu, yang ada hanya stand-stand yang bertema internet (namanya aja internet party), free brochure, and no camera flashes.

Aku mengelilingi ballroom yang sangat besar dengan pemandangan setiap stand beserta para spg dan kru yang siap melayani, jika aku mendekat sedikit ke stand mereka. Bersama beberapa teman kantorku, ini tidak begitu buruk. Lagian, kalau diparty sebelumnya aku masih belum berhasil menapaki red carpet yang diinjak oleh para selebriti. Malam itu aku berada di red carpet – anyway, carpet gedungnya kebetulan memang berwarna merah. Yaa, tapi setidaknya ini kemajuan yang bagus. Latihan merasakan red carpet mungkin.

“dunia sudah maju yaa…” kataku dalam hati. Aku sendiri memang tipe old fashioned kinda guy. Contohnya: daripada shopping online yang memang sudah canggih, cukup klik mouse, lalu barang yang dipesan datang, aku lebih memilih naik kendaraan umum, datang ke mall, let’s shopping. It’s my cardio.

Tapi memang kemajuan internet, sangat menolong orang banyak. Apalagi dalam menyatukan atau menghubungkan dalam hal komunikasi. Banyak kan yang sekarang bisa temu kangen dengan kawan lama, balikan lagi dengan pacar pertama kita sewaktu di sekolah menengah. Bahkan internet pun bisa menghubungkan sebuah komunikasi gelap alias berhubungan dengan selingkuhan. Amazing.

“tujuan situs kami memang untuk menyatukan setiap orang dari berbagai belahan bumi manapun,” kata seorang kru, saat aku mampir disalah satu stand sebuah situs terkini. “disini user kami bisa bertemu tanpa harus bertemu secara langsung, lebih mudah kan? cukup dengan video chat.”

Aku berpikir, bertemu tanpa harus bertemu secara langsung.

Is that how the modern world helping?

Malam itu, setelah aku dan teman-teman kantorku selesai dengan Internet Party, kami berjalan memutari JCC dan menuju ke Semanggi untuk pulang. Tapi aku sendiri masih belum beranjak dari pikiranku tentang bagaimana internet menyatukan kita secara riil.

So I’m stuck there, right between JCC and Semanggi, wondering while I’m waiting my bus.

Plug Me In

Jakarta sebagai kota besar, tentu sudah mengalami modernitas. Ditambah dengan masuknya internet. Sekarang hidup jadi semakin mudah saat zaman mobilitas semakin berkembang. Ingat kan zaman dulu hanya untuk membaca berita kita harus membeli koran untuk tahu update terkini, tapi sekarang orang Jakarta sudah memakai ipad mereka dan tinggal subscribe dan voila!

Kemajuan sendiri memang bisa diukur dari seberapa maju teknologi itu. Penemuan internet adalah salah satu yang menurutku luar biasa. Semua disatukan dengan internet. Tapi apa bisa menyatukan secara riil, sebuah perasaan riil antar setiap individu?

Kalau memang dunia sudah maju dalam mempertemukan setiap orang dari belahan dunia manapun, tapi sekarang kenapa belum mempertemukan kita dengan si belahan jiwa, yang justru rasanya jauh berada di belahan dunia yang tak terlihat. Internet memang sebuah kemajuan, tapi rasanya dampak kemajuan itu belum kita rasakan saat dikaitkan dengan pencarian cinta. Dan pertanyaanku, apa sebenarnya pribadi kita yang ketinggalan zaman? Apa kita yang masih kolot memakai cara-cara lama sementara sistem sudah maju? Apa prinsip dunia maya bisa diwujudkan dalam dunia nyata?

When it comes to relationships, what really connected us?

Sex Online, Online Sex

Di era single people sekarang ini, internet membawa sebuah kado pencerahan. Ibarat sebuah jalan baru dalam menemukan pasangan hidup. Yaitu Facebook. Siapa yang tidak memakai Facebook untuk mencari cinta dengan cara baru, bahkan aku mengkoneksikan diriku demi sebuah peruntungan – how pathetic to admit.

Well cara baru ini banyak keuntungannya. Pertama, irit ongkos. Ngga perlu lagi ketemuan di café mahal yang menguras isi kantong. Kedua, the power of chatting. Maksudnya, kadang sebuah kata-kata berupa text bisa memperkuat perasaan kita, karena sebuah text bisa memiliki makna yang dalam yang kadang sulit untuk diucapkan oleh bibir. Dan karena mobilitas, orang lebih suka membaca I love you via yahoo messenger ketimbang dibisikan I love you secara langsung.

Yang ketiga, sex webcam. Kalau yang kalian pikir sex secara langsung – maksudnya sex secara normal, dimana secara fisik pasangan kita ada disana – itu nikmat, Uww… itu belum seberapa. Sex secara online membawa kita pada level yang berbeda.

“lo cukup berada dikamar, nyalain webcam, dan enjoy the show,” kataku kepada Yuri. “dan ngga bakal diganggu oleh layanan room service. And no tipping.”

“tapi gimana have sex-nya?” Tanya Yuri dengan bingung sambil terus menikmati soup hangat yang dipesannya.

“lo bisa ngapain aja! Ya namanya aja sex online. This is the phone sex of the 80’s.” kataku.

“inget sex online bukan online sex,” komentar Thomas. “online sex itu jasa.”

Yuri masih kebingungan. “lah gimana lo bisa orgasm tanpa sentuhan? Sentuhan nyata maksud gw.”

“itu dia nikmatnya. Salah satunya lo bisa mengeksplor diri lo sendiri.” kata Thomas sambil menelan potongan fried chicken hangatnya disuasana resto yang sore itu kebetulan hujan.

“you touch yourself, terus pasangan kita ada entah di bagian bumi mana, dan kepuasaan itu tetap ada? Ngga ada romance sama sekali gitu?” kata Yuri.

“yes. Who needs romance while you enjoy it.” Thomas menyerang lagi.

“terus gitu DOANK?”

“opp… anti hamil, dear.” Kataku.

Sore itu kami berada santai di Cibubur Junction, at Richeese Factory Resto. When we feel so cheesy yet cheerful.

3G World

Kebingungan Yuri memang beralasan. Dia berkenalan dengan Mr. Chip melalui Facebook, seorang social media master disalah satu internet marketing company. Aku pernah bilang ke Yuri, hati-hati kenalan dengan anak social media, because this is the 3G type guys.

“3G? apa…”

Games, Gadgets, Girls.

Awalnya seperti normalnya flirt, it’s about fun and games. Dan hal berikutnya yang Yuri ketahui adalah puluhan notifikasi dari Mr. Chip. Nonstop dari pagi sampai malam. Selamat pagi sayang. Selamat makan siang baby. Tetap semangat ya beib, sampai good night sayang.

“perhatiannya jauh terasa nyata. Biarpun tidak secara fisik.” Kata Yuri.

Setiap hari Yuri hidup dari notifikasi Facebook. Kadang tanpa itu hari-harinya jadi kosong. Apa Yuri sudah menemukan cara baru dalam menikmati romance via online?

Sahabatku Yuri memang tipikal wanita pemuja romantisme. Dia tidak akan mencinta tanpa aspek romance. Mengapa dia susah mendapatkan cinta? – tepatnya bukan itu pertanyaannya. Tapi, mana pria romantis idamannya?

Lain lagi dengan sahabatku Thomas. Mr. Fuck People Might Say. Dengan gaji besar seorang IT, dia bisa membeli romance. Yaa itu tadi, melalui online sex.

Tanpa perlu mencari dijalan-jalan ibu kota, atau merasa tertipu dengan profile foto Facebook, dia bisa memilih tipe wanita apapun untuk menjadi kencan semalamnya. Semua bisa di sort by categories: wild west girl, asian dream girl, even best local girl. Just connect to get konnak.

A Real World Love

In the end, dunia maya tetaplah dunia maya. Cerita Yuri sepanjang malam tentang akhir hubungannya dengan Mr. Chip. Yang untungnya tidak membuatnya kecewa. Tapi semakin menyadarkannya akan dunia nyata.

“akhirnya yaa begitu, dear…” kata Yuri. “ada benernya juga nasihat lo dulu.”

Sekarang aku yang merasa bersalah karena sok memberi nasihat.

“yahh, gw sih percaya aja sama dia, gw ngga pernah cek and ricek, even ngotak-ngatik FB-nya,” jelas Yuri. “sampe one day, ada cewe yang nge-add FB gw. Dan ternyata itu mantannya. Ceritalah semuanya. Dan gw mau buktiin sendiri. Dan mainlah gw ke FB Mr. Chip. Dan lo tau yang gilanya? Pertama, isi friendnya 90% cewe. Kedua, isi wall-to-wall-nya flirting dan obrolan sex sama sejibun cewe. Apaan sex diumbar-umbar begitu! Hopes I can punch his face off to wall!”

“mentang-mentang gw sibuk, gw memang ngga pernah cek timeline.” Tambahnya. “I thought love is trust!”

There it was, Yuri Timeline back to single again. After 3G+S guy. Games, Gadgets, Girls, plus Sex.

Yuri thinking, love is not about how much he say I love you. But how much he can prove that it’s true.

Then she blocked Mr. Chip from Facebook and her heart.

Sementara Thomas juga berpikir ulang. Mungkin dia bisa mendapatkan fantasy girl-nya. Tapi apa arti sebuah kiriman kecupan mesra dan manja yang menggoda nafsunya lewat layar monitor laptopnya? Kali ini ia merasa hambar.

Ia pun berpikir arti kepuasannya? Toh setelah itu yang dilakukannya adalah shut down dan menutup laptopnya. Bukan seorang wanita yang setelah had sex masih berada satu ranjang dengannya, terus memeluknya hangat, diikuti bisikan I love you ke telinganya. Bukan suara yang didengarnya lewat speaker box.

Setelah kembali menatap layar laptopnya, malam itu Thomas melirik box sort by categories. Disana ia kembali dihadapan oleh pilihan tipe-tipe wanita fantasi-nya berdasarkan tiap kategori. Dunia maya memang memberikan kategori-kategori impiannya. Tapi pada dunia nyata hanya ada satu kategori yang masih melekat padanya, the category of single men who needs a real love.

A real man gives up one night stands for a woman he can’t stand one night without.

Kembali pada hari Minggu dimana kami berkumpul tadi, dan semua cerita tumpah ruah disana. Aku mengambil kesimpulan, kita memang bisa disatukan oleh dunia internet, dunia dimana kita bisa menemukan setiap fantasi kita, dunia dimana kita bisa bertemu tanpa harus physically bertemu. Dan dunia itu adalah dunia yang tidak nyata.

Dunia maya yang kalau kita sadari, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Aku pun tidak mau hidup dalam dunia Matrix. Walau dunia nyata memang kejam, tapi sesungguhnya masih lebih kejam ibu tiri. Kenyataanya bertemu kangen secara langsung jauh lebih memuaskan.

In fact, real world love doesn’t care about body type, model looks, or wallet size. It only cares about what’s inside.

Thomas berkata: “kadang orang itu baik-baik aja di dunia nyata. Tapi kalau di dunia maya bisa ngeselin karena ‘tukang nyampah’ di timeline.”

Aku belajar, relationship is not just about the communication every moment everyday. What’s more important is having trust and loyalty.

Dan untukku, orang lain boleh menenteng ipad mereka, tapi koran jauh lebih fashionable dan terlihat pintar.

Advertisements

2 thoughts on “Connect Me to Your Heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s