Home

Di kota besar dimana kesinisan sudah menjadi sahabat kita, dimana romantisme sudah terbang keluar jendela, dimana pola pikir kita sudah terputar-balik, kita selalu dihadapkan dengan masalah dengan jalan keluar yang salah. Dan jalan alternatifnya adalah mencari second opinion.

SecondSuatu malam tiga orang Jakartans berkumpul. Si pengacara, si sekretaris, dan si penulis. Saling bertukar pendapat dengan sudut pandang masing-masing – yang terlihat dari latar belakang pekerjaan mereka.

“guys lo rela ngga lepas status single, tapi dijadiin pacar kedua?” Nancy si sekretaris bertanya. Aku rasa pertanyaan itu keluar karena malam itu meja kami dikelilingi oleh banyak pasangan yang bertebaran diseluruh isi foodcourt. Sementara meja lain asik saling berbisikan mesra dan tenang, meja kami paling gampang ditebak, paling ribut sendiri, ramai dengan tawa-tawa lepas – the single people table.

“I’m not a second option,” kataku. “you either choose me or you lose me.”

Vanny si pengacara judgemental melirikku, seakan aku berkata bullshit, “nobody wants to be treated like an option!” kataku sambil membalas mata tajamnya.

Nancy kembali bertanya, “apa yang buat lo berpikir mau punya dua orang pacar?”

“sifat dasar manusia, Nan,” kata Vanny. “ngga pernah puas dan faktor ‘kebutuhan’. Terutama untuk pria yang beristri, punya simpanan tuh petualangan buat mereka.”

“di Jakarta, jadi yang kedua malah diprioritaskan.”

“tapi gimana nasib pacar pertamanya? Atau istri pertamanya?” kata Nancy.

Vanny tertawa mendengar pertanyaan Nancy. “we give a fuck to the first.” Vanny mencibir. “kaya gw sekarang. Gw dideketin sama cowo yang udah punya pacar. Ini juga petualangan buat gw.”

Vanny membuat pembelaan, kalau pria yang sudah punya pacar bisa jatuh hati padanya. Berarti pilhan pertamanya salah. Dan kenapa ngga memberi kesempatan kedua untuk si pria?

Runner-Up Contestant

Prioritas pun sudah berubah di kota ini. Tidak ada lagi prioritas pejalan kaki, tidak ada lagi lembaga Pemerintahan yang mementingkan kesejahteraan rakyat, bahkan dalam berumah-tangga prioritas seorang suami pun sudah berbelok, sex dengan istri kedua tapi pulangnya ke istri pertama.

Aku berpikir tentang makna kata ‘kedua’, entah menjadi yang kedua, pacar kedua, apapun itu. ‘Dua’ itu terdengar asik, beli 2 gratis 1, 2 istri 1 suami, 2 lemas 1 puas. Dua itu seperti saat Zara sedang discount: beli 2 tshirt gratis 1 scarf hitam polos, memuaskan. Tapi kalau posisi kita sebagai perusak hubungan orang lain gimana? mungkin hama bukan lagi tanaman yang mengganggu.

Tapi bukannya disetiap kompetisi, kita selalu berebut untuk menjadi posisi yang pertama? Dan kenapa dalam kompetisi ‘happily ever after’ ini, menyikut kebahagiaan orang lain itu sah? Apa itu merupakan kesempatan kedua yang justru tidak boleh kita sia-siakan? Atau menjadi runner up sudah cukup bahagia jika kita tinggal di Jakarta ini?

I’m wondering, are second is the best?

Second Advice From The Ex Sec Gal

Berbicara soal ‘the best’ aku menemui sang pakar dalam hal ‘pacar kedua’ ini, Yuri, si accountant yang aku rasa pria di Jakarta setuju kalau ia memiliki aura sex – mungkin karena zodiaknya scorpio. Jadi malam itu aku mentraktirnya minum, agar Yuri buka mulut atau buka yang lain – it’s a joke y’all…

“hey dear,” sapanya dengan nada suara manja yang sudah aku kenal. “wah, liat jaket lo! Ciri khas kamu tetep ya. Even, malam ini Jakarta panas.”

Setelah dua Tequila dan satu Cosmopolitan, aku mulai bertanya, mendengar, dan melihat. Malam itu Yuri cantik dengan dress ungu semi office-look dengan cocktail dress.

“Jadi yang kedua itu memang asik, dear,” kata Yuri. “jadi nomer dua itu lebih diperhatiin. Kamu bisa minta apapun. Bahkan tanpa disuruh. Contoh hal sepele, pernah BB-ku rusak, tapi besok paginya yang baru sudah ada di meja kerjaku, rapih terbungkus.” Menjadi yang kedua sepertinya menjanjikan materi.

“kalau lagi berantem, aku selalu menang. Mana berani dia kehilangan aku. Karena yang kedua itu memberikan ‘kehadiran’ yang ngga bisa dikasih si nomer satu. Aku rasa hubunganku yang dulu itu intim banget. Tapi…”

Yuri berhenti sejenak, dan menenggak habis Tequila-nya, “yang penting jangan terlibat perasaan. Menjadi yang kedua itu cukup sebatas asas memanfaatkan. Banyak orang yang ngga hati-hati dan akhirnya stuck jadi ‘simpanan’… ya karena main hati.”

“berarti lo pernah jadi simpanan donk, Yur?” kataku.

Yuri melempar senyum dengan lesung pipi andalannya, dan mengangkat gelasnya sebagai tanda minta ditraktir lagi. Lalu katanya: “dear, aku kan orangnya bosenan.”

What i learned, if someone treated us like an option, so we left them like a choice.

Second Girlfriend Who Did The Number Two

Kata orang hidup di Jakarta itu harus berani. Seperti Vanny, berani punya hubungan dengan pacar orang lain. Sore itu Vanny berada di rumah si pria. Ia berpikir ngga ada salahnya kencan di rumahnya, selama cewe-nya ngga datang, siapa suruh ngga ada.

Dan Vanny mengejutkan kami, “Nan, Mike, I did the number two at his place.”

Pemberitahuan lewat pesan itu membuat aku tertawa, “you’re the number two girlfriend and did the number two. Two thumbs up!”

“ew, gw ngga akan pernah ngelakuin number two di rumah cowo gw. Menjijikan lo Van.” Nancy membalas.

Mungkin beberapa orang ada yang menghindari dating faux pas atau hal menyimpang yang ngga boleh dilakukan saat berkencan. Katanya termasuk melakukan number two di rumah pacar kamu. Seperti yang kita ketahui, melakukan number one atau buang air kecil di rumah pacar sih wajar. Tapi kata orang, melakukan number two atau pooped itu NGGA BANGET!!

“tapi liat positif-nya. Number two di rumah pacar kan bisa berarti lo udah nyaman sama dia.” Aku membalas ke Vanny dan Nancy.

The First is…

Setelah keluar dari kamar mandi, Vanny dan pacar-orang lain-nya memutuskan untuk keluar makan malam. Rasanya sih memang dag-dig-dug jalan sama pacar orang. Tapi yaudalah tanggung, belum ketahuan ini.

Sepertinya apa yang dibilang Yuri benar. Malam itu Vanny merasa jauh lebih diperhatiin. Ia berpikir ketimbang sama cowo biasa, ia selalu mengalah. Sama pacar orang lain itu dimanja. Dan makan malam itu sangat special, dari makanan pembuka, hidangan utama, sampai makanan penutup. Malam itu judulnya: mahal.

Setelah satu setengah jam makan sambil asik ngobrol, mendadak bunyi telepon mengganggu mereka. Ketakutan Vanny terjadi. Si empunya pacar menelepon. Dan dengan langkah seribu si pria langsung pergi menuju toilet.

Jadi malam itu selain berjudul mahal, malam itu berjudul: mampus gw! Vanny pun juga langsung langkah seribu dari restoran itu.

A man has two options in a relationship: either stand up and be the man she needs or sit down, so she can see the man behind it.

Diperjalanannya pulang Vanny menceritakannya. Makanya jangan main-main mau jadi pacar kedua. Liat aja yang udah-udah, ujungnya banyak sakit hatinya. Seperti kata Vanny: “padahal udah nyaman, tapi bukan prioritas yang gw dapat, gw cuma cewe selingan-nya.” Mungkin yang kedua ya… tetaplah nomer dua.

Ibarat jamuan makan malam, pacar pertama itu main course (hidangan utama), pacar kedua itu makanan penutup (dessert). Mana yang lebih penting? Kenyataannya dessert itu hanya sebuah pelengkap, tanpa itu pun ngga masalah.

The point is no one deserves to be just an option. Jangan pernah menjadikan seseorang sebagai prioritas, kalau orang itu hanya menjadikan kita pilihan kedua.

Well, falling in love with someone is the second best thing in the world, but the first is… we have to find it.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s