Home

Sore setelah jam pulang kerja, saya bertemu dengan Lita, 26 tahun, yang bekerja sebagai staff accounting disalah satu bank swasta di Jakarta. Wanita muda ini sangat giat dalam bekerja, juga sangat cekatan dalam menyelasaikan tugas, terlihat dari umurnya yang masih muda, ia terlihat sangat energik.

Sayangnya kelihaiannya bekerja, bertolak belakang kalau membahas kisah cintanya. Ia mempunyai kisah percintaan yang terbentur dengan masalah religi. Untungnya bukan perbedaan religi – menurut saya kalau sudah begitu, wah seperti kartu mati. “pacarku termasuk fanatik,” kata Lita sambil memesan cappuccino.

Berdoa Sebelum Seks atau Seks Sebelum Berdoa

Kami duduk di teras Starbucks, daerah Kuningan, sambil menikmati pemandangan Jakarta yang sudah mulai dipenuhi kendaraan roda empat. Lita dan pacarnya memang satu kepercayaan. Lita juga menghargai keimanan si pacar. Termasuk yang sulit, saat ia harus bisa tampil agak sopan di tempat umum. “aku sekarang hampir enggak pernah pakai Cavalli yang mungkin terlihat sexy buatnya,” gumam Lita.

Pacarnya sendiri, Joi, 29 tahun, memang dialiri nilai-nilai agama yang kuat dikeluarganya, dan layaknya sebagian pria diawal 30, Joi sudah terlihat menjurus ke arah pernikahan. “memang belum ada kata-kata itu,” kata Lita. “tapi melihat hal fanatik membuat aku anti-fun.”

Lita mengakui bukan orang yang sangat agamais. Memang kalau kita tinggal di kota besar seperti Jakarta, religi tidak lagi hanya 5 agama yang kita tahu, tapi lahir pemahaman-pemahanan religi baru yang membawa ‘pemeluk’nya lebih dari sesuatu – kata Syahrini, salah satunya: fashion religion.

Yang jadi masalah adalah kalau Lita sudah menjurus menuju seks. Memang libidonya masih bisa dikendalikan – katanya, tapi kalau ‘nanggung’ rasanya nyesek. Jangankan diciumnya, disentuh saja ia hampir enggak pernah. “pernah aku duduk disebelahnya, sambil merebah di bahunya, kaya orang pacaran biasalah. Tapi pas aku sadar, mulutnya tuh komat-kamit kaya baca doa,” Kata Lita. “disitu aku bingung. Aku kok kaya iblis yang lagi menggoda napsunya.”

Seandainya Hawa yang menggoda Joi, mungkin enggak akan ada dosa di dunia ini. Lita sendiri mempunyai doa yang sederhana, ia hanya ingin bisa sedikit intim dengan pacarnya. Itu saja.

Memang berdoa itu adalah benar. Berdoa sebelum makan, berdoa sebelum bekerja, bahkan di kendaraan umum pun ditempelkan sticker ‘berdoalah sebelum mengemudi’ – walaupun kenyataannya supir ugal-ugalan, dan para penumpang yang malah berdoa. Tapi kalau berbicara seks di Jakarta, apa orang suci bisa berpacaran dengan pendosa? apa di kota besar ini kita perlu meminta ‘restu’ sebelum melakukan seks?

Dan seperti layaknya hidup yang tidak luput dari kesalahan, salahkan kalau kita ‘melakukan’ baru berdoa setelahnya? Katanya zaman sekarang kita harus membuang kepolosan kalau hidup di kota besar.

Atau zaman sekarang, berdoa adalah foreplay?

Single Prayer

Sebagai single, Nancy, yang bekerja sebagai sekretaris, pernah mengalami hal yang sejenis. Di generasi 20an, ia pun juga sedikit hati-hati kalau sudah menyangkut-pautkan seks. “nilai agama memang fondasi hidup,” kata Nancy. “dan berdoa bisa menjadi pengingat buat aku.”

“tapi seks memang mewarnai hidup,” tambahnya. “aku pun juga serba salah, seks sebelum menikah kan katanya salah,” Nancy berkata dengan nada yang meledek. “tapi secara pribadi, ya itu tadi, sama pinter-pinter orangnya saja, dan patuhilah aturan berpacaran yang benar.”

Dia pun mengatakan, kalau godaan sebagai single jauh lebih berat. Dan itu berbeda dengan mereka yang sudah menikah. Kalau sudah menikah, bagusnya memang berdoa sebelum melakukan seks, apalagi bagi mereka yang mungkin berniat memiliki keturunan. Saya pribadi baru tahu belakangan ini, bahkan disalah satu agama, memang dianjurkan berdoa sebelum berhubungan seks – mungkin biar ibadahnya lebih halal.

Tapi bagi kita yang masih single, kata halal itu tepatnya: menghalalkan segala emosi. Berdoa sebelum sex? Saya rasa berdoa bukanlah sebuah foreplay yang menggairahkan. Kegiatan khusuk lebih difokuskan pada ciuman liar, mencari lokasi G-spot, juga khusuk dalam ‘posisi pertapa’.

Baru setelah seks kami berdoa, mungkin bersama dalam hati: semoga enggak jadi anak.

Tergantung Motif

Memang sudah tidak bisa dipungkiri kalau menyangkut seks, ibadah vs emosi, yang keluar sebagai pemenang adalah kedagingan kita. Keduanya sebenarnya bisa bersatu akur, selama konteksnya benar.

Kembali lagi ke niat berdoanya. Berdoa sebelum seks bisa menjadi pengingat, mungkin supaya kita enggak terlalu melewati batas. Mungkin lain didalam doa dan kalau sudah berada ‘dilapangan’, dan walaupun konteksnya cuma niscaya, setidaknya untuk yang masih berstatus single: berdoa sebelum seks bisa membentengi hal-hal buruk – setidaknya.

Sementara seks sebelum berdoa, memang jatuhnya penyesalan. Tapi untuk yang sudah ‘sah’ lebih merujuk kepada ucupan syukur, kalau bersatunya dua individu dalam satu hubungan seks itu adalah cinta yang diberkati – bukan lagi sekedar kewajiban di malam Jumat.

Tapi buat saya, baik sebelum atau sesudah, berdoa itu baik untuk memulai sesuatu. Itu foreplay saya, sebelum memulai aktivitas sehari-hari. Itu saja. Dan soal seks… yang penting aman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s