Home

Mari kita jujur akan satu hal: apakah kamu seorang pendosa? Saya rasa jawabannya semua orang selalu berbuat dosa. Tidak ada pengecualian. Bawah, menengah, sampai atas. Dari rakyat jelata sampai presiden. Dari penganguran sampai pengacara.

Dosa awal bermula di Taman Eden, oleh Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang. Satu buah nikmat yang membuka mata manusia akan sebuah kesalahan fatal. Akhirnya mereka sadar akan kesalahan, lalu meninggalkan Taman Eden yang indah yang selama ini menjadi rumah mereka.

Adam dan hawa bertahan hidup, beranak-cucu, dan berkembang. Hingga mereka menemukan ‘rumah’ baru yang modern, kendaraan mewah, dan memakai setelan Armani, Prada, dan tidak lagi bertelanjang. Selamat datang di Jakarta. Dimana pohon hijau sudah semakin jarang, gedung semakin mencakar langit, dan keturunan-keturunan Adam dan Hawa yang semakin memadati. Sebuah Taman tidak lagi cukup untuk berdua. Jakarta adalah Taman Eden yang Metropolis.

Captivating Jakarta

Seperti Taman Eden, Jakarta juga memberikan apa yang manusia ingini. Karir, peluang usaha, bahkan mimpi tingkat tinggi. Tukang bubur saja bisa naik haji. Sayangnnya, hukum dan aturan Taman Eden pun masih berlaku. Dosa turunan mengalir. Dosa merupakan tindakan ketidaktaatan, pelanggaran, dan pemberontakan manusia dari hukum-hukum yang ada. Gaya hidup apa yang sudah Adam dan Hawa turunkan kepada kita?

Sadar akan dosa dan memilih untuk berusaha memperbaiki hidup, apa sudah terlalu terlambat? Mudahkah menghapus dosa? Atau justru: “bisakah?” – apa terkesan cuci tangan jika kita berkata, “saya berdosa karena saya hanya manusia biasa.” Atau kalau sudah terlanjur ya nikmati saja?

Dosa: fatal atau wajar?

Perbuatan dosa ada banyak – masing-masing punya ‘dosa favorit’. Dan kalau yang kita tahu dosa itu berhubungan dengan bohong, berjudi, korupsi, dan lainnya yang jelas memang salah, itu sih sudah makan sehari-hari. Tapi yang menarik adalah buah dosa yang nikmat. Buah yang tertanam di Jakarta yang tidak membukakan mata manusia kalau mereka melakukan kesalahan. Semakin dosa semakin nikmat, bukan?!

Disamping kehilangan kesadaran. Kita tetap hidup santai dengan dosa yang mendarah daging. Dan buah dosa tidak berjumlah satu di dahan pohon – setidaknya saya baru menemukan empat.

Sabda Perut

Selain mendarah daging, dosa yang ini juga menambah daging. Amy, bartender, terjerat dalam dosa ini. Hobi makan merupakan hobi ekstrim yang ia jalani. Mengaku food traveler, lidah Amy sudah mengecap berbagai makanan, dari Asia, Western, sampai Nusantara.

“kenikmatan itu yang bisa dirasakan lidah,” kata Amy.

Saya sendiri juga bingung, kalau bertemu dengan teman-teman sekolah dulu. Semua seakan tumbuh kesamping. Mereka berubah menjadi gemuk, dan selalu bilang, “Mike dari dulu tetap kurus.” Tapi saya anggap itu pujian (tapi lama-lama kaya hinaan). Lihat juga pejabat-pejabat kita, perutnya membumbung begah karena uang rakyat. Membuktikan orang-orang berpangkat kadang otaknya pindah ke perut.

Begitu juga Amy, senang-senang: makan, putus cinta: makan, bengong pun: makan. “semua berubah, dari pipi, leher, perut, paha,” kata Amy. “mungkin jarum timbangan bisa muter balik. Aku enggak berani nimbang. Nanti kalau stress malah: makan.”

Amy yang dulunya tinggi kurus, sekarang menjadi tinggi besar. Awalnya ia mengejek si sosok yang terpantul di cermin. Namun karena sudah terlalu berat menurunkan berat, ia menyerah dan menerima perubahan fisiknya. Begitu juga perubahan cara pandangnya melihat sebuah sosok figure wanita cantik. Bukan lagi harus tinggi kurus langsing. Sekarang ia menerima dirinya dengan tampilan full figure yang manis. Kata Amy: “big is beautiful!”

Dosa makan memang tidak terasa di akhirat. Tapi efeknya tubuh kita yang merasakan, belum lagi lingkungan. Makanya double chocolate brownie merupakan iblis kecil yang menggoda bukan? Biarpun iman kuat, sayangnya Jakarta sangat mendukung dosa makan. Makanya peluang usaha yang lagi hot sekarang adalah membuka usaha restoran.

Si Iblis Yang Memakai Prada

Siang itu, di Jakarta yang terik, Vanny puas memaki seorang supir taksi. Terlambat ke tempat kliennya bukan hal sepele bagi seorang lawyer. Darahnya mendidih siang itu. “ambil kembaliannya!” lalu dia membanting pintu taksi dan bergegas. Pikirnya: jangan sok ramah, saling senyum dengan orang asing, atau sekedar membantu jika ada orang tersesat di jalan. Kerahaman penduduk Jakarta hanya ada dalam iklan dan spanduk Visit Jakarta – semua palsu menurutnya.

“orang Jakarta yang asli itu sifatnya pemarah, judgemental, dan sinis,” kata Vanny. “kebanyakan karbondioksida sepertinya.” Taman Eden tidak lagi asri. Yang ada hanya asap kendaraan dan bus kota yang bukan hanya merusak paru-paru, tapi juga merusak mood.

Hal yang paling mengerikan adalah melihat iblis itu sendiri. Dan iblis tidak lagi berwujud dengan tanduk beserta tongkat apinya, tapi berwujud wanita cantik dengan tas Pradanya, make up cantik, dan sikap tidak ramah, serta mata membelalaknya seakan mengutuk.

“ya marah enggak asal marah lah,” kata Vanny. “situasinya apa? Alasannya kenapa? Kalau aku merasa dihina, pasti naik pitam!”

Marah menyangkut harga diri. Harga diri itu menyangkut siapa itu SAYA. Seperti jabatan tertinggi dalam struktur perusahaan. Semakin tinggi harga diri kita, semakin bebas kita marah-marah. Orang Jakarta rata-rata kalau marah selalu berpikir: “ya saya ini bos! Saya ini direktur! Atau saya ini punya  uang!”

Lagi-lagi seperti kasus orang penting dan terpandang yang ditegur oleh pramugari, eh udah salah malah lebih ngotot. Merasa dirinya yang paling benar juga bisa menjadi latar belakang seorang pemarah. Lihat saja acara debat di tv, ajang diskusi malah menjadi ajang adu emosi. Intinya: coba buka diri dan terima pendapat orang lain.

“pernah sih emosi banget, pokoknya yang ada didepan muka langsung kena semprot,” kata Vanny. “ya namanya juga lagi dapet.”

Uang itu Raja, Man!

Andre, 28 tahun, sudah menjabat jadi tangan kanan bosnya. Bekerja di dunia marketing adalah ladang basah untuk menghasilkasn uang. Ngomong-ngomong, siapa yang tidak cinta uang?

Uang bisa membeli segalanya. Apalagi di Jakarta, uang bisa membeli kepuasaan, kejujuran, dan membeli harga diri orang. Semua dikendalikan oleh kekuatan secarik kertas. Walau ada kata-kata bijak: uang bukan segalanya. Sekarang saya berpikir: mungkin yang bilang begitu cuma orang yang enggak punya uang.

“uang itu syarat kalau mau have fun,” kata Andre.

“hidup enggak bisa kalau enggak ada uang.” Tambahnya. “cari calon bini liat dari uangnya juga.”

Hidup memang butuh uang. Dari buang air kecil sampai buang bukti perkara besar saja pakai uang. Ya beginilah Taman Metropolis, semua memang realistis dan materialistis. Coba kalau Adam dan Hawa dulu kenal uang, mungkin buah terlarang malah dijual.

“sekarang semua transparan sih. Uang bukan lagi soal sensitif,” kata Andre. “cewe matre, cowo matre, semua cuma perkara uang. Lo mampu ya kasih! Lo butuh ya ambil!”

Sukses itu kadang dipandang dari ketebalan dompetnya oleh beberapa orang. Kalau katanya: uang tidak bisa memberikan kebahagiaan, cuma kita bisa nangis dalam BMW – bukan nangis dipinggir jalan. Uang memang membuat kita bahagia dan aman dari sudut ego kita. Tapi enggak ada yang tahu sampai kapan. Apa yang dilandasi uang biasanya cepat berakhir. Apalagi yang didapatkan secara ‘mudah’ dan tidak halal. Namanya juga uang panas.

Kata penelitian di Amerika, sebesar 88% pernikahan yang didasari uang, lebih cepat mengalami perceraian. Coba kita sendiri yang melakukan penelitian, lihat sekitar kita, menurut kamu kata penelitian atau kata kenyataan?

Adam dan Hawa dan Hawa Napsu

Jakarta kota malam, kota yang tidak pernah tidur, seperti Tonny yang sedang mumet dan enggak bisa tidur malam itu. Dosanya terlalu membebaninya. Sambil menyalakan Marlboro Light dia berpikir dan memutar balik kisahnya. Pertemuannya dengan si tulang rusuknya, Monique.

Tonny dan Monique bertemu di pusat keramaian kota besar ini, di atas puncak Skydining. Keindahan malam itu, dengan cahaya lilin temarang, udara malam yang menusuk, mempertemukan mata mereka. Disana dosa awal bermula. Seminggu kemudian mereka mulai jalan bareng. Semua berjalan layaknya pasangan normal walau ada konflik ala kota besar. Namun layaknya Adam dan Hawa mereka hidup berdampingan.

Keduanya anak perantau di Jakarta ini. Mereka juga sudah berkarir professional. Dan tinggal di kost-kostan mewah. Kadang mereka bertukar shift untuk tidur di tempat masing-masing. “semua baik-baik saja Mike,” kata Tonny. “apalagi kalau soal ranjang. Kami sempurna.”

Sampai suatu saat semua kebahagian yang dijanjikan ‘Taman Eden’ ini berubah menjadi dosa. Mata Tonny dan Monique terbuka akan apa yang telah mereka perbuat. “Monique udah isi tiga bulan,” kata Tonny.

Dia hanya bingung. Diumur yang masih muda dia belum siap menjadi seorang ayah. Mungkin banyak pasangan yang memakai jalan pintas, dengan menggugurkannya. Hanya jika itu dipilih, bukan lagi dosa, itu malah menjadi tiket gratis mereka ke neraka. “be a man! Tanggung jawab Ton.” Kataku.

Tonny memutuskan walau ragu, dia menikahi Monique. Keduanya sudah cukup dewasa, hanya kultur kumpul kebo yang mereka hindari. Pasangan ini didasari oleh cinta, ya mungkin ini yang dibilang: shit happened. Tonny dan Monique belajar: enggak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik sang Pencipta. Kekurangan adalah milik Bunda Dorce.

Akhirnya mereka menikah. Tonny dan Monique sekarang bisa bersama, serumah, dan beranak-cucu, SAH.

Soal seks bukan hanya fatal tapi juga vital. Semoga lain kali pengendalian diri lebih bisa diutamakan. Waktu di Taman Eden, Adam dan Hawa kan digoda ular, mungkin ‘ular’ sendiri jauh lebih berbahaya.

Begitulah kisah penat Tonny dimalam itu, sudah setengah bungkus rokok dihabiskannya, dia pun kembali ke tempat tidur, memeluk Monique, istrinya. Ia berpikir, semua hidup dari dosa, tapi sekarang ia memiliki kesempatan mencintai Monique secara utuh dan beruntung memilikinya. Sekarang waktunya menebus dosa. Pikirnya: kalau enggak kotor kan engga belajar.

Itu sih wajar di kota-kota besar. Semua berawal dari dating, eating, drinking, kissing, lalu… bunting.

Advertisements

One thought on “Jakarta: Kota Para Pendosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s