Home

Sabtu siang di Jakarta yang agak mendung, Devina dan Thomas mengunjungi pameran kebudayaan Jepang di JCC. Keduanya cukup menggilai anime dan manga. Bahkan mereka sering diledek Vanny karena hobi ‘bocah’ ini. Tapi begitulah… bukannya saat kita dewasa, kadang terpikir ingin kembali menjadi bocah lagi.

Jepang merupakan salah satu negara Asia yang sangat maju. Kotanya sangat modern, kalau saya lihat, kota besar seperti Tokyo sudah setara dengan New York – ya semoga Jakarta kedepannya lebih bagus. ‘Demam’ Jepang pun melanda Jakarta. Selain kebudayaannya, yang justru digila-gilai anak-anak Jakarta adalah anime dan manga-nya.

Anime dan manga adalah film kartun dan komik ala Negri Matahari. Banyak yang menganggap ini adalah hobi anak sekolahan, tapi nyatanya kegemaran akan produk Jepang ini memiliki massa yang luar biasa. “Dunia imajinasi merupakan tempat terbaik untuk kita ‘melarikan’ diri dari kenyataan,” kata Thomas.

Confessions of a Hentai-holic

Rhino Tomarro, 27 tahun dan seorang manga freak. Sebagaian besar hidupnya selalu dihabiskan dalam dunia kartun ini. Di pagi hari sebelum bangun dari tempat tidur, dia lebih memilih komik ketimbang membaca renungan harian. Istirahat kantor dipakai untuk membaca komik online dengan ditemani makan siangnya. Dan kalau meeting mulai membuatnya ngantuk, dia menonton anime dengan suara mute agar matanya terjaga.

Banyak orang berpikir membaca komik itu membuang waktu, kekanakan, dan dapat menggangu tumbuh kembang kita – ngutip iklan susu. Buat Rhino ini adalah dunianya. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam, seperti atlit NBA, membuat orang takut akan fisiknya, tapi siapa yang tahu kalau hatinya hello kitty.

Berbicara tentang ‘dunia khayal’ ini, apa yang membuat Rhino begitu menghidupinya?

“Semua!” kata Rhino.

Rhino mulai menyukai komik-komik Jepang sejak dari bangku sekolah hingga sekarang ia duduk di bangku senior social media. Hari-harinya tanpa komik seakan hampa. Ia tidak mau kehampaan itu terulang, seperti dulu waktu komik-komik koleksinya dibuang orangtuanya karena ia malas belajar. Karena tragedi itu ia malah makin ‘kecanduan’.

Bacaannya waktu kecil ya seperti anak-anak pada umumnya, karakter-karakter ninja, warrior, juga komik mecca seperti Gundam adalah role modelnya. Jiwa kecilnya mengkhayal untuk bisa menjadi jagoan-jagoan itu. Tapi sekarang jiwa dewasanya membutuhkan sesuatu yang lebih. Dia butuh ‘role model’ yang bisa mengisi kesendiriannya sebagai lajang. Bacaannya menjadi komik hentai (porno).

“Gw suka fantasi yang disajikan,” kata Rhino. “Gambar!”

Sebagai lajang, semua pasti memiliki secret single behavior. Bagi pria, salah satunya suka menyimpan hal-hal berbau pornografi seperti foto bokep, 3gp, majalah Playboy, dan sekarang komik hentai (porno). Semua atas nama daya khayal kita.

Gambar vs Asli

Malam minggu, Rhino kencan dengan gebetannya, Cindy aka Chii-chan, yang berhasil di gebet-nya dalam sebuah pameran komik Jepang. Cindy seorang cosplayer. Kegemaran berdandan ala tokoh kartun itu yang membuat Rhino langsung jatuh hati. Something in common, huh?!

Mereka berdua menghidupkan dunia komik ke dunia nyata, jatuh cinta seperti alur dalam komik shonen, dan malam itu makan di dunia komik, Comik Café, Tebet, tepatnya.

Kalau naksir dengan orang yang memiliki hobi sama, komunikasi pun juga enak. Enggak perlu khawatir kalau pasangan kita sebenarnya bosan dengan apa yang kita bicarakan. Seperti malam itu, kencan mereka diisi dengan pembicaraan seputar komik favorit, anime favorit, sampai rencana masa depan Chii-chan yang ingin membuka Toko Action Figure.

Rhino mengantar Cindy pulang dengan motornya. Pemandangan gedung-gedung Jakarta adalah layout komik mereka. Motor Rhino yang melaju kencang menambah kedinginan Cindy malam itu. Si pria meraih tangan si wanita untuk memeluknya. Jaket kulit andalan Rhino yang jarang dicuci bukan lagi jaket anti-cewe yang selalu diledek teman-teman kantornya. Ini bukan lagi dunia khayalan.

Sampai di depan rumah Cindy, Rhino tampak enggan mengakhiri malam. Dan malam itu menjadi sempurna. Cindy menciumnya. Jika ini ada dalam sebuah halaman komik, ini adalah halaman favoritnya. Dinginnya Jakarta malam itu menghangatkan dua orang ini.

Mereka pun berat hati untuk mengakhiri malam indahnya. Cindy pun melangkah pelan sambil melambai kepada Rhino. Sampai… angin nakal menyibak rok mininya. Paha putih mulusnya terpampang. Rhino seketika memakai helm-nya dan bergegas menyalakan mesin motornya, mengakhiri malam itu, dan melambai.

Rhino melaju cepat untuk menyembunyikan mimisannya.

Efek Samping dan Efek ‘Bawah’

“Malam itu echi,” kata Rhino kepada Danny, teman kantornya. “Otak gw udah parah kayanya.”

“Echi?”

“Maksudnya semi porno,” jelas Rhino. “Gaya cewe gw. Rok mininya. Apalagi waktu liat paha mulusnya.”

Rhino merasakan komik-komik porno koleksinya sudah mendominasi pikirannya. Dia bingung. Dia tidak mau melihat Cindy seperti dia melihat gadis yang ada di halaman komik No Bra, Time For Boy. Cindy itu gadis nyata, tegasnya dalam hati.

Efek samping dari membaca hentai membuat Rhino makin kecanduan. Suka berkhayal seksual. Dan terbukti koleksinya makin menumpuk di sudut-sudut pojok lemarinya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa gelisah, bukan karena komiknya akan dibuang lagi. Tapi akal sehatnya yang sudah terbuang.

Ia merasa khawatir kalau kebanyakan mengkonsumsi hentai bisa membuatnya kurang tertarik dengan wanita asli. Mengingat hubungan sebelumnya, ia memperlakukan mantan-mantanya seperti para gadis-gadis yang ada di komik hentai. Enggak pake perasaan, cuma pelepasan napsu, dan hanya menganggap mereka sebagai objek seks.

“Gw ga mau kaya gitu lagi. Gw pengen hubungan yang sekarang serius.” Kata Rhino.

Dia muak dengan ke-horny-annya. Dia enggak mau lagi setiap malam rutinitas hentai-nya masih berlangsung. “Yaudah, buang aja komik-komik lo, gampangkan!” kata Danny.

Bukan soal buang-membuang, tapi Rhino belum siap merasa ‘hampa’ seperti dulu lagi.

“Hubungan gw sama cewe-cewe di komik itu udah belasan tahun,” kata Rhino. “Ga gampang putus sama mereka.”

“So…”

“Gw cuma ga mau efek samping ini lari ke ‘bawah’,” Jelas Rhino.

Di Kencan Kedua…

Pada kencan keduanya, Rhino berusaha memblokir khayalan pornonya. Malam itu Chii-chan yang memakai tank top garis-garis hitam pink, jaket berdetail manik-manik, dan rambut lurus digerai dan dihiasi bando beraksen pita ala lollyta, memukau matanya. Tapi rok mini itu masih menghantui matanya juga.

“Kalau enggak karena angin sialan itu, semua pasti normal-normal aja,” bicaranya dalam hati. Semua tidak lagi seperti kencan pertamanya yang menyenangkan. Rhino kebanyakan diam dan mengalihkan pandangannya. Rhino ga mau merusak acara dan mood yang sudah ada. Sampai…

Pandangan matanya terjatuh pada rok mini lainnya. Lalu ia segera membuang pandangannya. Di kanannya rok mini juga. Ke kiri rok mini. Kalau dulu ini adalah khayalan mesumnya yang ingin ia wujudkan. Sekarang semuanya bencana. Rhino mengambil tissue di meja makannya dan lari menuju kamar kecil. “Selesai,” Rhino berbicara dalam hati.

Mereka pun pulang lebih awal. Tanpa berciuman. Hanya wajah Cindy yang keheranan. Rhino sudah kepalang malu. PMS dihidungnya tidak bisa dibendung. Ternyata mimisan buat cowo sama malunya saat cewe lagi nembus menstruasi.

2.15 AM

Dikamarnya, dia merebahkan diri,  merenung. Dia melihat sedikit bekas darah kering di t-shirtnya. Apa yang salah dari dirinya? Napsu yang tertahan malah membuatnya tambah penat. Dia berpikir, “udah enggak ada obatnya kali.”

Dua jam Rhino menatap langit-langit kamarnya. Ia mencintai Cindy sebagai wanita asli. Dia tidak memperlakukan Cindy sebagai objek seks. Cindy terlalu baik untuk disakiti. Berarti yang salah ada di dirinya: “pilih hentai atau pilih Cindy?” Pertanyaan itu berlarut-larut di pikirannya, dan membuatnya tertidur.

2.15 AM. Ia terbangun. Dan tanpa jawaban. Ia melongo ke kolong tempat tidurnya, memanjangkan tangannya dan berupaya meraih sesuatu yang ada di dalam kolong tempat tidur yang penuh sarang laba-laba itu. Akhirnya ditariknya komik No Bra Vol 14 favoritnya. Ia butuh pengalihan masalah.

Ia memandang gadis dengan bra biru dengan posisi yang menggoda yang berada di sampul depan komik itu. Katanya dalam hati: “ahh ini juga positif… obat penghilang stress…”

Malam itu Rhino kembali dengan ‘pacar lamanya’. Si wanita ber-bra biru dan tangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s