Home

Jakarta di bulan Juni, pagi itu terik, langkah seribu seorang gadis menerobos kerumunan orang yang belum memadati area Pekan Raya Jakarta (PRJ) begitu terdengar memantul dan membuat sedikit kegaduhan  disuasana pagi yang tenang. Dia berlari dan menabrak beberapa orang hingga seragam dan handbag-nya sempat memukul orang yang menghalanginya.

“Maaf Pak, saya terlambat,” napasnya masih belum teratur. Lalu ia segera mengganti tshirt dan jeans hitamnya dengan seragam dress mini berwarna orange. Ia melihat teman sesama pekerja sudah sibuk menyiapkan puluhan teh hangat untuk dibagikan sebagai sample.

“Dina, sini aku bantuin,”

Mata tajam sang Tim Leader melirik Fitri yang berlagak sibuk. Fitri sebenarnya paling malas kalau Jakarta sudah menyambut bulan Juni. Karena “tamu” bulan Juni lebih merepotkan dibandingkan tamu bulannya.

Harga BBM vs Harga Diri SPG

Fitri, 27 tahun, seorang SPG (Sales Promotion Girl) yang bekerja pada stand teh dan kopi di PRJ. Kerja menawarkan teh dan kopi dari pagi sampai malam kadang membosankan. Sejauh ini ia belum menemukan pekerjaan yang bisa menggantikan rutinitasnya sekarang – income-nya juga lumayan, katanya. Satu-satunya yang ingin ia capai dan belum tercapai adalah menjadi pramugari.

Pagi ini belum terlalu ramai pengunjung. Untuk mengusir rasa kantuknya, ia meminum kopi sample yang ada. Ulang tahun Jakarta ke 486 bagi Fitri biasa saja, Jakarta masih sama saja. Ia sendiri tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Kejutan dan kado enggak pernah ada dalam hidupnya. Malah kado spe-sial untuknya adalah hari gini ia masih tetap jadi SPG.

Matanya melihat jam di sana, “brengsek masih jam 10,” katanya dalam hati. Fitri sudah siap dengan seragam seksinya dan rambut hitam panjangnya terkuncir kebelakang. Kali ini tugasnya taking order, karena terlambat ia tidak bekerja di depan stand. Fitri mengambil buku order dan membantu temannya yang terlihat sibuk.

“Ini buat table berapa Din,” kata Fitri mencoba membantu Dina.

“Eh, udah biar aku aja,” Dina membalas. “Fit, ‘pacar’mu datang tuh!”

Fitri langsung menengok ke arah luar, dan benar dia datang lagi. Ia melirik tanggalan, “tuh kan benar setiap Selasa,” bisiknya ke Dina. “Udah sana deketin.”

Dengan langkah yakin, mupeng, dan gugup, Fitri mendekat sambil mencoba mengatur pita suaranya agar selaras. Sambil menyodorkan menu dan mengangkat buku catatannya ia mau mengucap: “boleh kenalan ga?”

“Pagi, mau pesan apa?”

Gagal.

Mata si pria memperhatikan menu makanan. Menu makanan jauh lebih menarik dari penampilan Fitri. Memang dari awal seragam orange ini adalah ide buruk.

“Saya pesan paket special plus French fries-nya,” kata si pria sambil membuka tas dan mengeluarkan Blackberry-nya.

Fitri mencatat dengan mata yang terus memperhatikannya. Sampai… “sama hot chocolate ya,” ia menongak ke atas dan memberi senyuman. “baii…kkkk…” pita suara Fitri bergetar.

Setelah kembali mengantar pesanan si pria dan ga mungkin ada kesempatan ngobrol lagi, Fitri berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikannya. Setiap detail, dari tshirt putihnya, blazer hitamnya yang rapih, sampai jam tangannya yang menanbah kesan profesional muda. Berbanding dengan dirinya yang sederhana.

Ia tahu, ‘pacar’nya selalu berkunjung setiap Selasa, di jam makan siang, dan selalu datang sendiri. Informasi ini sudah dianalisanya sejak minggu kedua di bulan Juni. Sayangnya, ini sudah hampir akhir bulan, dan ini pertama kalinya ia menyesali tugas SPG-nya berakhir.

Ia melihat si pria sudah tampak bergegas, makananya pun juga sudah habis. Raut muka Fitri murung, hiburan satu-satunya yang ia miliki akan pergi. Si pria menuju kasir untuk membayar. Lalu memasukan kartu namanya dalam gelas “Teh Gratis Tukar Kartu Nama”, lalu pergi.

“Heh, Fitri! Kerja!” si TL menegur.

Harga Diri Bisa Ditawarlah…

Sebagai SPG gajinya memang besar. Begitu juga resikonya. Apalagi kalau bekerja di luar stand, keliling dan menawarkan produk. “Bukan produk aku yang dibeli, malah aku yang ditawar.” kata Fitri. Dia berpikir dengan resiko pekerjaan yang besar, mestinya kesejahteraan SPG ditingkatkan. Ditambah juga, biaya makan dan ongkos kendaraan naik. “Emang BBM aja yang ditingkatkan.” katanya.

Tapi ada juga SPG yang ‘meningkatkan’ jasanya menjadi plus. Seperti salah satu temannya, ‘bekerja’ dibalik bekerja. Hasilnya bisa melebih gaji mereka sebagai SPG yang rata-rata sudah besar dan instan. Ya semua tentang mencukupi kebutuhan hidup yang makin naik dan kebutuhan pria yang ‘naik’.

Mendapatkan klien pun sangat mudah. Karena kemolekan tubuh, polesan cantik, dan paha putih mulus yang diumbar, ‘kucing’ pun datang dengan sendirinya. Kalau normalnya seorang SPG tidak boleh terlalu menonjol dari produk dagangannya, yang ini justru boleh menonjol supaya mengundang orang – yang kebanyakan pria – untuk datang. “Banyak yang dagangin ‘harga diri’ di beberapa agensi terselubung,” kata Fitri.

Apalagi makin gencar saat isu BBM naik jadi kenyataan. Beberapa kenalan SPG juga menaikkan tarifnya. Paket escort pun digantikan dengan full service, jadi biar dibayar mahal sekalian. Namun tetap saja ada dilemanya. Ditengah kenaikan BBM, SPG tetaplah tak berdaya. BBM memang naik, tapi harga diri justru diturun-turunin.

Perbedaan BBM dan SPG adalah BBM ga bisa ditawar, kalau SPG bisa ditawar.

Becanda genit, tebar-tebar pesona, dan mulut jail pria sudah dirasakan Fitri. Makanya kalau TL-nya lengah, ia mending didalam stand. Dan dari mulut jail sampai tangan jail. Fitri lebih baik menghindari customer yang sedikit berbicara tapi tangannya aktif.

Selama ini belum ada pengalaman yang buruk banget. Namun beberapa kalangan masyarakat memang punya image negatif dengan SPG. Walau pernah beberapa kali ia diperlakukan kurang baik oleh calon pelanggan. Tapi Fitri selalu menekankan dalam hati bahwa: different head, different mind. Ia tetap bekerja dengan cara halal dan secara professional, jadi ngga mau ambil pusing.

“Kalau menghadapi customer yang sabar, jangan pakai emosi, emosi tidak menyelesaikan apa-apa.” Kata Fitri.

Banting Harga

Malam itu Fitri kebagian lembur bekerja. Karena malam Minggu pengunjung lebih ramai, dan pesta kembang api akan diadakan. Jakarta beruntung, ulang tahunnya selalu ramai.

Ia bosan berdiri dan menawarkan teh dan kopi seharian. Dan kebanyakan minum kopi bukan membuatnya tambah segar, malah makin menjenuhkan perasaannya. Malam minggu tanpa orang yang spesial. Lalu ia terpikir akan kartu nama si pria spesial itu. Fitri menengak kopi.

Fitri memberanikan diri untuk meneleponnya. Setiap mendengar bunyi nada telepon ditelinganya, jantungnya terpacu makin kuat. Ini efek kebanyakan minum kopi atau perasaannya yang gugup?

“Halllooo…” suaranya bergetar. “Bisa bicara dengan… Michael.”

“Oh hai, apa kabar,” kata Fitri.

Fitri merasa dirinya seperti SPG-SPG yang menjual harga dirinya. Tapi kali ini bukan cuma ditawar, ia malah banting harga.

“Aku merasa bodoh melakukan ini, tapi aku SPG Tea & Coffee yang di PRJ,” jelasnya. “Ya, yang selalu dikuncir kebelakang.”

“Gini… Aku selalu perhatiin, kamu selalu datang setiap Selasa, disetiap jam makan siang, dan kamu selalu pesan paket special french fries dengan hot chocolate. Biasanya pegawai kami selalu kurang manis kalau buat itu. Jadi aku selalu tambahin susu dan cream,” Fitri tersenyum lewat telepon. “Menurutku, kamu manis.”

Mereka berdua teus berbicara. “By the way, baju kamu selalu bagus. Blazer hitam yang cocok.” Kata Fitri. “Kamu ngapain sih kalau lagi datang?”

“Oh… sepertinya menarik.” Balas Fitri.

Lalu Fitri menghela napas, “hey, aku ga mau membuang waktu kamu. Dan cewe ga biasa melakukan ini. Tapi kira-kira bisa ga kita kapan-kapan jalan. Ke luar dari stand aku bekerja. Gayaku beda kok dari seragam kerja biasa. Yah mungkin kita jalan-jalan yang deket aja.”

Malam itu suasana hati Fitri begitu tenang. Tapi suasana PRJ mendadak gaduh. Pesta kembang api sudah dimulai. Ledakan demi ledakan mengganggu pendengarannya. Suasana ngobrolnya sangat terganggu. “Halloo…” kata Fitri.

Fitri berlari ke dalam ruangan, mencoba mencari tempat sepi. Ia menabrak beberapa orang dan hampir terjatuh karena heelsnya yang tinggi. Ia tidak peduli, ini kesempatan sekali seumur hidup atau harga dirinya akan rendah selamanya. “Halo, kedengaran ga?”

“Oke, jadi hari apa tadi?”

“Yeah, perfect.” Fitri tersenyum.

Entah harga dirinya sebagai wanita sudah turun dan mungkin mempunyai image negatif dari tindakannya. Ia berpikir: different head, different mind. Maksudnya baik. Walau bukan ulang tahunnya, tapi kembang api dan Jakarta seakan memberi kado terbaik dalam hidupnya.

Masih ada cinta di Jakarta. Ini Jakarta baru, Jakarta kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s