Home

Jakarta: padat penduduk, polusi, dan kebisingan suara klakson mobil yang setiap jam 5 sore sudah dimulai di sepanjang jalan Sudirman. Tidak ada alasan lain bagiku untuk meninggalkan kota ini – setidaknya sejenak.

Akhirnya kelima Jakartans memutuskan untuk lari menyelamatkan diri dari rutinitas Jakarta. Aku, Vanny, Nancy, Yuri, dan Thomas – walau tanpa Devina yang sedang sakit. Kami berlima memilih berlibur ke pulau Pari di kepulauan seribu. Thomas sudah mengatur jadwal sejak 6 bulan lalu.

Toh, tidak ada alasan yang lebih baik untuk meninggalkan kota ini. Vanny baru diputusin, karena masalah perhatian. Nancy baru membubarkan hubungan 4 tahunnya, karena feeling-nya sudah pudar. Sementara aku, Yuri, dan Thomas hanya ingin bersenang-senang. Semua butuh refreshing, karena otak kami pun sudah bising.

Escape From Jakarta

3 jam perjalanan menyebrangi laut, tertidur-terbangun masih di kapal, dengan perut terombang-ambing oleh lautan, dan panasnya siang hari itu, membuat kami semakin mengidamkan sebuah liburan. Kami tiba dengan wajah sedikit pucat, apalagi Nancy, Yuri, dan aku yang semalaman tidak tidur. Tapi akhirnya kaki kami menapaki hamparan pasir putih bukan lagi aspal berwarna abu-abu.

Akhir bulan Juni merupakan awal dari liburan. Cuaca musim panas memang cocok melarikan diri ke pantai. Jadi hari itu Pulau Pari seakan menjadi lautan masyarakat. Dari rombongan mahasiswa sampai esmud-esmud. Sepertinya sepertiga orang Jakarta ada disini.

“Guys arah jam 1,” kata Vanny.

Mata kami menengok mencari arah jam 1, dan ternyata berdiri seorang pria, dengan postur besar dan tegap memakai Rayban hitam. “baru sampe radar lo udah on ya!” kata Thomas sambil mengangkat tasnya dan memilih pergi mencari tour guide kami.

Aku menyemangati Vanny untuk membuka liburan kami yang harus menyenangkan. Yah, apa yang terjadi di pulau tetaplah di pulau. “You are on vacation, you have to get laid.”

“Oh, I will.” Vanny membalas.

Fuck Ecosystem

Kelima sahabat itu tiba di rumah penginapan mereka – maksudnya rumah warga yang disulap menjadi penginapan. Selesai menaruh barang-barang mereka yang over-packing, Vanny dan Yuri mulai beraksi merubah wajah mabuk laut mereka menjadi mutiara laut. Pencarian pria-pria lajang pun dimulai.

“Kali aja nemu jodoh disini dear,” kata Yuri.

Padahal siang itu acara berikutnya adalah snorkeling, tapi Vanny dan Yuri full make up lengkap dengan bulu mata anti badai-nya.

Setiba di kapal, Vanny dan Yuri melihat si pria tampan yang tadi kita temui di tepi pantai, sebut saja Mr. Funky. Mereka berdua bukan tipe wanita yang mensia-siakan keadaan. Rasanya tanktop mereka sudah bisa menggoda mata-mata pria disana. Ditambah kulit Vanny yang putih dan Yuri yang eksotis.

Namun gaya mereka tidak bertahan lama setelah berada di tengah lautan lepas. Ini snorkeling pertama buat mereka. Tapi melihat Mr. Funky yang siang itu memakai tshirt putih ketat yang membentuk badan besarnya, mereka memberanikan diri terjun ke laut lepas. Tenggelam atau tidak tenggelam.

Vanny menang dalam snorkeling, karena berenang adalah hobinya. Yuri mati gaya, panik di lautan lepas. Sementara Nancy dan Thomas sudah terbiasa dengan lautan, mereka asik menikmati pemandangan bawah laut. Dan aku lebih memilih menjadi photographer diatas kapal.

Terumbu karang, ikan-ikan, dan kekayaan lautan Indonesia yang indah tampak jelas. Sungguh pemandangan yang tidak mungkin ada di Jakarta. Vanny sangat terkesima hingga melupakan ‘misi’nya. Dan disisi lain, Yuri juga asik menikmati kekayaan Indonesia lainnya,  Mr. Funky yang hanya berjarak beberapa meter saja.

Melihat Mr. Funky sudah memiliki pacar, malah menantang jiwa petualang seorang Yuri. Baginya lajang-lajang yang belum laku layaknya baju berlabel diskon 50%. Dan pria yang sudah memiliki pacar adalah dress limited edition yang harus dimilikinya. Ia ingin tidak ingin merebut milik orang lain, hanya liburan ini haruslah ‘berarti’.

Yuri menantang ombak yang mencoba menjauhkan dirinya dari Mr. Funky. Gerak-geriknya tidak dicurigai karena terlalu banyak orang yang ikut snorkeling. Jadi Yuri memulai ‘gerakan bawah laut’nya, pelan tapi pasti. Pantulan matahari dan birunya lautan membuat wajahnya bersinar – dan terima kasih karena eyeliner water proof-nya bekerja. Mr. Funky terkena aura Yuri siang itu.

Di tengah laut lepas di tengah kerumunan orang yang asik snorkeling, mata mereka bertemu. Mr. Funky mendekati Yuri. Jarak mereka cukup dekat, mereka berbicara dengan gerakan mulut dan bertukar informasi. Dengan ombak laut yang mendorong mereka mendekat, mereka bisa melihat keindahan masing-masing. Menyentuh tubuh Yuri jauh lebih menarik ketimbang terumbu karang dan ikan-ikan yang ada di sana.

Yuri membalas sentuhan Mr. Funky, dengan mulai menyentuh bagian badannya dan…

Is this okay?” bisiknya menggoda.

Good Gal Gone Bad

Vanny yang tidak okay. Air laut memang bisa menyebabkan korosi pada suatu benda. Begitu juga yang terjadi dengan make-up yang kacau dan merubah dirinya menjadi Joker face. Diperjalanan pulang menuju pantai, ia didekati pria bule. Biasanya wanita Indonesia paling getol kalau didekati oleh pria asing. Sayang yang ada siang itu adalah pria bule yang sudah senior.

Namanya Patrick, asal Washington, seorang manager di perusahaan kilang minyak di Jakarta. Dengan tupperware bertuliskan Virginia Tech yang berisi wine dan rokok di tangan satunya, ia mencoba merayu Vanny. Tapi ombak dan pemandangan badan Patrick yang sudah uzur membuatnya semakin mual.

“Sialan nih si Engkong,” bisiknya ke Nancy yang duduk disebelahnya.

“Do you wanna join me with the girls tonight? We’re gonna have barbecue,” kata Patrick.

Vanny menengok ke arah depan kapal, ternyata bule tua ini mempunyai banyak kencan di pulau ini. Mereka terlihat seperti mahasiswi-mahasiswi kemarin sore. Vanny hanya membalas dengan senyuman terbaiknya sembari menahan pusing. Tidak mengiyakan tidak juga menolak.

“Why western guy always straight to the point? I’m not saying i didn’t like it. But hold up, where is this come from?” kata Vanny.

“Come on you look like bad gal! I like it!” kata Patrick.

Under The Moody Stars

Malamnya, kami berlima menuju acara barbecue yang diadakan di penginapan Patrick. “kalau enggak oke, kita cabut,” kataku untuk meyakinkan Vanny. Anyway pasti banyak free drink and nice food di sana.

Kami berpakaian tanpa meninggalkan identitas kami sebagai orang kota besar. Walau terlihat berlebihan jika dibandingkan orang-orang yang di sana.

Bukan hanya free drink dan nice food, ternyata Patrick si bule mengundang massal turis-turis lainnya. Semua tumpah ruah, lokal dan asing ada disana. Dan Vanny beruntung karena Mr. Funky disana. Ia pun mengingat misinya kembali. Sex, sex, sex, and a little bit of sex.

Ia pun mulai mendekatinya. Sementara yang lain berpencar. Sejauh mataku melihat: Thomas sedang asik memakan ikan bakar, Nancy masih sibuk mengoles badanya dengan sunblock, karena snorkeling membuatnya keling. Dan Vanny menuju ke arah meja minuman tempat Mr. Funky berdiri.

Vanny berjalan dan memainkan langkah sexy-nya seiring dengan lagu yang diputar diacara itu. Ia mulai memainkan matanya juga dan… “hey bad gal you made it,” Patrick menyapa.

Pancingan Vanny mengenai ikan yang salah. Wajah Vanny berubah. Mr. Funky juga sudah pergi.

Deburan suara ombak di malam hari dan tiupan angin malam membuat Yuri terdiam berada di bangku kayu di tepi pantai. Malam itu langit cerah, bintang pun bertaburan seperti berlian berkilauan. Ia selalu menyukai menikmati moment seperti ini.

“Kok sendirian?”

Yuri menengok, ia terkejut Mr. Funky menemukannya terduduk sendiri ditepi pantai.

Mereka berdua duduk agak berjauhan, hanya pemandangan lautan yang gelap yang bisa mereka lihat. Moment seperti ini yang ditunggu-tunggu Yuri. Memiliki pacar, pergi liburan, dan semalaman berada di tepi pantai dengan bintang-bintang di sana.

Namun gelap itu justru membuat Yuri melihat satu titik cahaya dihatinya. Mr. Funky hanyalah pelariannya.

Mr. Funky mendekatkan tangannya mencoba meraih tangan Yuri. Genggamannya menghangatkan. Membakar raganya. Dan membuatnya menoleh dan memberikan senyuman. Tidak mengiyakan tidak juga menolak.

Yuri merasa menang. Misinya berhasil. Mereka berciuman. Kegelapan menyamarkan pasangan ini.

Dengan segelas Martini yang aku dapat dari Patrick si bule tua itu, aku lanjut menikmati crowd yang ada. Sambil melihat ke arah Yuri aku berkata dalam hati: “dasar moody!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s