Home

Jakarta, mendung, sepi, dan membosankan. Atau itu cuma aku.

Liburan panjang hari raya bukan lagi menjadi suatu berkah bagiku. Lalu lintas yang biasanya padat memang jadi lunglai, oksigen pun juga terasa belakangan ini. Hanya aku saja yang sesak dengan kesuntukan. Jadi, aku memutuskan untuk merubah pemandangan ini.

tumblr_mcxdacHA341rk4r82o1_500

Pertama yang spontan dilakukan oleh mereka yang masih single adalah menghubungi teman-teman yang juga single. Aku sendiri mempunyai paling enggak lima atau lebih teman yang berstatus sama – tapi kalau dipikir-pikir apa ketularan single ya? Who cares

Setelah aku menghubungi kelima sahabatku, yang kudapat hanya sebuah statement: I can’t.

Jeez!

Bukan hanya bosan plus suntuk, tapi aku hanya beberapa centi lagi mati dalam kesendirian.

Well, disaat seorang pria dikelilingi rasa bosan, teman yang paling setia adalah sebungkus Marlboro ice blast. Siang itu, dengan suasana fitri tapi bukan di kota santri, aku mengutak-atik otak, mencari ide.

30 menit,

1 satu jam,

Then

Aku teringat satu hal yang membahagiakan yang aku lewatkan. Satu hal yang harusnya aku ingat sejak awal. Satu hal yang harusnya aku syukuri. Yaitu uang THR.

Sekejap aku menghubungi sahabatku lagi, Yuri. Seperti sebuah konsultasi, aku berencana ingin “menghamburkan” uang hasil jerih payah seorang penulis. Biasanya pria memikirkan dua hal dalam menghabiskan uang: traktir pacar dan traktir selingkuhan.

I can tell the boys always spending their money for love.

Dua hal yang buatku berat untuk diputuskan. Keduanya sama-sama ngasih kepuasan. Batin dan jasmani. Dan berhubung di dunia ini kita enggak bisa milikin keduanya – dengan kata lain uangnya juga nge-pas. Yang mana ya? Oh, dalam kasusku dua hal yang aku cintai tersebut: beli jaket baru atau beli iphone.

Sendiri dan Diam

Sedikit menyimpang dari Jakarta, tepatnya sekitar Jakarta, Bekasi, Nancy juga mengalami dilemma antara dua hal: hubungi atau tidak menghubungi Vanny. Kedua sahabat ini sedang bersitegang. Saat ini moment “maaf-maafan” tidak ada dalam tanggalan mereka.

Ia merenung. Tanpa Marlboro. Ia berpikir sikap menghargainya selalu tidak dimengerti orang lain.

Dalam kehidupan ini, disaat kita terpojok akan suatu masalah yang dilatarbelakangi kebimbangan, entah mau balikan dengan mantan pacar, mau menyendiri, bingung mau menghabiskan uang, atau untuk berdamai dengan sahabat, diri kita masih bingung mau mengambil keputusan. Semua karena nge-pas dan gengsi.

Akhirnya Yuri bilang: “butuh atau ingin?” pertanyaan pamungkas itu seperti susah untuk dijawab. Pertanyaan itu hanya membuat kita bengong.

Diantara dua pilihan adalah hal yang tidak nyaman. Rasanya kita butuh tapi ingin, namun cuma ingin tapi ada rasa butuh. Kalau dibilang, seakan kita butuh dan perlu, tapi bisa jadi ingin dan ego. Jadi apa yang terbaik? Mementingkan kebutuhan? Atau mengatasnamakan keinginan?

Butuh dan ingin, mana yang harus didahulukan?

I want sex or I need sex?

Kembali ke tengah hiruk pikuk Jakarta. Antara butuh dan ingin bukan hal yang absurb bagi Yuri. Malam itu ia butuh seks.

Bersama dengan Mr. Crocodile aka Mr. Croc, auditor pajak yang ia kencani, Yuri membuang basa-basi. Ditengah pancaran lampu dari gedung-gedung Jakarta dan kesunyian malam itu dimana jalan protokol tidak padat seperti hari kerja, Yuri bermalam di apartment Mr. Croc.

Kesunyian membuat suara gaduh dan desahan di kamar lantai 26 itu jadi terdengar. Helaan napas keduanya seperti mobil-mobil yang di gas full. Keduanya saling mengebut untuk mencapai garis klimaks mereka. Tanpa rem, malam itu Yuri meminta “sang pengendara” untuk tancap gas.

Menurutnya, seks adalah kebutuhan. Memang banyak yang ingin dan cuma ego sesaat, tapi diakhir hari toh jadi kebutuhan. Di ranjang tidak ada istilah “mengatasnamakan” atau “mementingkan”. “Begitu di tempat tidur ya namanya seks,” kata Yuri. “Di sana ada yang mementingkan cinta, ada yang mengatasnamakan cinta, ada kebutuhan, ada juga napsu.”

Tapi menurut Miss mutey in the moment, Nancy: “untuk yang masih single, pastinya itu cuma kepengen aja. Tapi untuk yang sudah menikah, YES seks itu adalah sebuah kebutuhan rumah tangga.”

Sepertinya zaman sekarang mencari uang bukan lagi untuk kebutuhan yang bisa membuat dapur ngebul, tapi juga untuk membuat ranjang makin panas.

What I Want is What I Need, What I Need is What I Want

Berbicara soal cinta, kebutuhan, dan napsu, aku ditengah perjalanan menentukannya. Sekali lagi, jaket atau iphone? Aku mencoba memisahkannya, mana yang aku butuhkan dan mana yang hanya sekedar ingin.

Akhirnya sampai disalah satu mall di pusat kota. Berada di depan Zara dan ibox sudah seperti di ambang pintu surga dan… surga (juga). Aku benci sifat kebanyakan pertimbanganku yang memakan waktu. Lalu aku menghubungi Nancy untuk meminta saran.

“Pilih aja yang diingini saat ini,” kata Nancy. “Kebutuhan tuh buat jangka panjang, dari pada kematengan mikir, go with your first instinct!”

Seperti instingnya yang berkata untuk menarik diri dari Vanny sejenak. Nancy butuh waktunya sendiri.

Mungkin kita harus belajar: untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan dalam hidup ini, ya kita juga harus bantu orang lain dengan memberikan apa yang mereka butuhkan.

Dan tanpa berpikir lagi dan enggak mau dicurigain sama security toko, aku mengambil keputusan. Butuh atau ingin aku sendiri enggak tahu. Yang aku tahu cuma: kalau merasa itu mau dilakukan, baik itu butuh atau ingin, ya udah lakukan! Tapi kalau merasa enggak butuh-butuh amat atau setengah pengen, dan merasa enggak mau, ya udah stop mikirin itu. I just only thoughts: “don’t confuse with the things you want with the things you need. You may find yourself empty handed.”

Dan aku mementingkan sejatinya diriku, yaitu jaket. Aku masuk ke Zara, dan menghabiskan setengah uang THR-ku dan bye-bye iphone, dan keluar toko dengan bangga juga sadar, “ini namanya penZarahan.”

Masalah kebutuhan vs keinginan, kata orang, sebenarnya kita enggak akan pernah dapat apa yang kita inginkan, karena nyatanya kita akan selalu memperoleh apa yang kita sebenarnya butuhkan – sadar ga sadar sih…

Senin pun sudah tiba, kembali masuk kerja dan Jakarta sedikit demi sedikit mulai ramai kembali. Aku pun kangen dengan deadline-ku. Dan yang aku inginkan saat ini adalah menghabiskan hari demi hari sampai bertemu awal bulan lagi…

Karena sekarang aku butuh uang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s